masa dinasti joseon

Jumat, 27 April 2012

Deep Rooted Tree-eps 08

Chae-yoon dan Pyung bertarung semalam suntuk, bahkan Chae-yoon tampak sangat gembira ketika mengetahui kalau ia dan Pyung seimbang. Dia memberitahu Pyung kalau ia tak bermaksud memancing dia, dan meyakinkan Pyung kalau mereka nanti akan memiliki waktu yang cukup banyak jika ia bisa menangkap Pyung dan dengan begitu ia bisa dengan resmi menyiksa Pyung ….. ah sisi gelap si Chae-yoon ….

Mereka berdua sama-sama menarik napas di tengah pertarungan, tapi bersiap untuk melanjutkan sampai mereka mendengar suara Mu-hyul di kejauhan. So-yi telah memberikan peringatan pada Raja dan Mu-hyul atas perintah Chae-yoon, tapi sekarang perintahnya itu justru memberikan waktu bagi Pyung untuk melarikan diri. Tapi sebelum itu, Pyung menjatuhkan paket yang terbungkus kain. Dan Chae-yoon dengan sembunyi-sembunyi mengambilnya kemudian memasukkannya ke dalam saku sebelum ia kemudian mengejar Pyung.

Pyung tahu kalau Chae-yoon pantang menyerah, dan merencanakan rencana yang cukup rapi sehingga menjauhkan Chae-yoon darinya. Ia menggunakan teknik lompatan untuk kembali ke Cho-tak, yang masih terluka akibat pertemuan mereka sebelumnya, dan menusuknya di dada. Chae-yoon sekarang harus memilih, menyelamatkan temannya atau tetap mengejar Pyung. Tak peduli betapa amarah bertumpuk-tumpuk di dadanya, Chae-yoon masih seorang yang baik dan sahabat sejati (ini adalah kali kedua Chae-yoon memilih menyelamatkan seseorang daripana mengejar Pyung). Chae Yoon memeriksa dan merawat luka temannya sedangkan Pyung segera menjauh.
Damdeok bertemu dengan Mu-hyul, kemudian memimpinnya ke atas gunung, di mana ia yakin kalu seseorang telah tewas. Mereka sampai di tempat kejadian perkara tapi tidak menemukan sesosok tubuh, namun menemukan beberapa bukti kalau sesosok tubuh pernah ada di sana (ada ceceran darah di lantai dan dedaunan). Mereka menyimpulkan kalau si pembunuh gelap pasti telah mengambil jenazah lagi.

Keesokan paginya, Chae-yoon memasuki sebuah ruangan dan mendapati kalau Park-po telah memanggil Ga Ri-on (si penjagal, koroner, sekarang ahli bedah? Apa yang tidak dilakukannya ya?  dan memohon agar menyelamatkan hidup Cho-tak kemarin malam. Parkpo bergurau dengan Cho-tak dan mengatakan sesuatu mengenai “hidup rendahan”, sehingga Cho-tak menatap Chae-yoon dengan gugup karena melihat kalau Chae-yoon mendengar gurauan itu dan menganggapnya sangat serius. Chae-yoon berkata ada banyak orang (berstatus) rendahan dan jabatan rendahan, tapi hidup rendahan tidak ada. Parkpo lebih baik meluruskannya dan segera!
Mereka disela oleh atasan mereka, yang seperti baru saja melihat sesosok hantu dan hampir tak bisa berbicara. Ini membuat Chae-yoon, Parkpo dan Ga Ri-on menuju ke TKP yang baru dilihat atasan mereka.

Semua orang berkerumun di dekat TKP, sesosok tubuh telah ditemukan dan terjadi kericuhan karenanya. Kali ini, jenazah itu ditemukan di atas sebuah perahu yang ditemukan mengapung begitu saja di atas air. Raja, para pelajar, dan bahkan para dayang sedang menunggu dengan napas tertahan, tapi Sejong menggunakan “topeng” wajahnya yang biasa. Kelihatannya Raja dapat menebak siapa yang ada di dalam perahu itu.
Mu-hyul jelas tahu, dan memerintahkan Ga Ri-on untuk memeriksa jenazah di atas perahu. Ga Ri-on menyingkapkan kain yang menutupi jenazah itu dan ternyata itu adalah tubuh Pelajar Jang Seong-soo, yang terlihat menghitam, karena racun senjata Pyung, membuat semua orang ngeri dan shock. So-yi melihat sekilas pada mayat dan tiba-tiba matanya berputar ke atas, lalu pingsan di tempat.

Semua orang menampakkan wajah terkejut mereka, tapi baru setelah pesan di bawah jenazah terbuka maka Pelajar Sung Sam-moon jatuh ke tanah, dan Raja terlihat sedang menahan rasa amarahnya. Tulisan itu tertuliskan dalam karakter Mandarin, dan terbaca: “Sekuntum bunga hanyalah sekuntum bunga dan tak bisa berubah menjadi sebuah akar.” Tulisan yang sama juga ada di dinding gua di mana Jung Do-jun mengukirnya, dan itu juga apa yang ditulis di kertas ujian keponakannya, Jung ki-joon, beberapa tahun yang lalu.
Itu adalah moto dari Mil Bon, dan jelaslah pesan itu bermaksud memperingatkan: Mil Bon ada di sini. Dan sekarang waktunya Raja Sejong waspada akan sekitarnya.

Mu-hyul merasakan hatinya tidak enak ketika Sejong memerintahkan semua orang pergi dari kamarnya dengan alasan ia ingin tidur siang. Mu-hyul tahu kalau Sejong bahkan tidak bisa tidur saat malam hari, jadi siapa yang ia ingin bodohi bahwa ia ingin tidur di siang hari bolong?
Tapi tidur siang tak pernah ada di pikiran Sejong, karena ia terus bergulingan di atas tempat tidurnya, menahan rasa amarah di hatinya dan mencengkeram baju di dadanya. Ia sedang bergumul dengan sisi idealis dari dirinya, yang biasanya bisa ia kendalikan, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Mil Bon, yang sekarang berpengaruh pada fisiknya.
Ia masih mengingat bagaimana ayahnya mengejeknya saat ia sekarat, mengatakan kalau jalan yang dipilih anaknya untuk memimpin negeri ini akan lebih buruk, dan Sejong setuju dan berteriak di ruangan kosong. Ini lebih buruk. Ia tak bisa menjadi lebih buruk lagi sementara ia bergumul dengan sisi gelapnya, sisi yang tak ingin menyembunyikan racun kekuasaan, tapi ia tak akan semudah itu menyerah. Karena itu artinya ia akan kalah terhadap ayahnya, yang pasti akan merasa sangat puas memenangkan pertarungan ini di alam kubur sana.

Hampir sama dengan keadaan Sejong, So-yi juga ada di tempat tidur, mencengkeram baju di dadanya dan sulit untuk bernapas. Dayang yang lain berkata bukankah bukan hanya So-yi saja yang melihat mayat itu? Tapi mereka tidak tahu kalau So-yi mengenal orang itu sebelumnya dan sekarang tiba-tiba sudah mati dengan mengenaskan. Karena So-yi juga terlibat dalam proyek rahasia pembuatan bahasa oleh Raja, maka semua orang yang telah mati sejauh ini adalah orang-orang yang ia kenal. Sama halnya kejadian ini mempengaruhi fisik Sejong, kematian demi kematian juga mempengaruhi kesehatan So-yi.
Sam-moon, yang sangat terpengaruh dalam atas semua kejadian di sungai, memberikan surat pemberitahuan ketidakhadirannya pada temannya, Park Paeng-nyeon. Ia harus mengambil waktu bebas untuk menyelidiki misteri ini sampai ke dasar-dasarnya, tak peduli apapun nanti akibatnya.

Pejabat Lee Shin-juk ternyata adalah seorang anggota dari Mil Bon. Ia memberitahu rekannya mengenai rahasia yang selama ini ia simpan bahwa sudah hampir 20 tahun sejak ia menerima perintah terakhir dan ia pikir Mil Bon telah bubar. Tapi sekarang ia mendapatkan perintah untuk mengaktifkannya kembali.
Kilas balik, ia mengingat percakapannya dengan Jung Ki-joon 20 tahun yang lalu, ketika ia bertanya kemana Jung Ki-joon akan pergi, yang dijawab kalau tak ada tempat ke mana ia bisa pergi. Ia akan bersembunyi di antara rakyat.
Sementara itu, Pyung bertemu dengan rekan-rekan Mil Bon nya, dan luka di atas wajahnya tak luput dari Pimpinan. Pyung berbohong mengenai penyebab lukanya, yakni Kang Chae-yoon, karena ia tampaknya tertarik dengan keahlian bertarung Chae-yoon. Setelah ia berada di luar, ia mengirimkan seorang pria untuk pergi mencari Lee Bang-ji, guru Chae-yoon yang telah menghilang selama 2 tahun ini.

Waktunya pemeriksaan mayat, yang sekarang menjadi rutinitas setiap kali ada yang mati. Kali ini hanya Chae-yoon dan Ga Ri-on saja dan juga tubuh si Pelajar Jeong Seong-soon yang baru meninggal. Ga Ri-on menarik sebuah jarum panjang dari dasar tengkorak kepala, titik nadi yang berhubungan dengan otak, yang dapat menyebabkan kematian langsung dan mengerikan. Tapi bukan itu saja, karena tubuh mayat menekuk dengan posisi aneh, Ga Ri-on menyimpulkan kalau itu adalah akibat dari racun yang mematikan. Penasaran .. sungguh membuat penasaran … mengapa Pyung menggunakan dua cara yang sangat berbeda hanya untuk membunuh Pelajar Jang, padahal satu saja sudah bisa membunuhnya?

Chae-yoon tahu kalau ia diikuti ketika meninggalkan tempat Ga Ri-on, tapi ia seorang yang tabah dan berani, ia membiarkan dirinya diikuti dan kemudian “ditangkap” oleh tak lain tak bukan si Pelajar Sung Sam-moon, yang jelas kekurangan pengalaman dalam menculik seseorang. …. ahahaha …
Sam-moon mungkin terbukti sebagai orang yang sangat pintar dalam masalah literatur, tapi ia sangat buruk dalam bertindak rahasia dan berwibawa karena posisinya justru menjadi terbalik dengan Chae-yoon, dan jelaslah sudah siapa yang bertindak sebagai penyelidik dan terdakwa dari kedua orang ini … heheheh …

Kedua orang itu benar-benar pas satu sama lain secara intelektual, dan Chae-yoon memang membutuhkan seorang rekan yang fasih literatur, tepatnya karena ia bukanlah orang yang tahu segalanya, jadi mereka berdua sama-sama untung. Ia mengusulkan untuk bekerja sama dengan memberikan secarik kertas yang habis terbakar, dan memberikan si Sam-moon 3 alasan mengapa mereka seharusnya bekerja sama: satu, secarik kertas yang ia berikan itu adalah yang ditinggalkan oleh Yoon-pil pada saat kematiannya. Dua, Jika Sam-moon bisa memecahkannya maka Chae-yoon akan menyerahkan padanya buku yang dimiliki oleh Pelajar Jang sebelum mati. Dan terakhir, mereka memiliki tujuan yang sama. Mereka berdua ingin memecahkan masalah ini, dan sekarang mereka berdua bisa bekerja bersama-sama untuk saling membantu sama lain.

Raja, sedikit bergurau kasar, melakukan pertemuan mendadak antara para pelajar dan pejabat. Di ruangan pertemuan suasana sangat tegang karena mereka semua berpikir kalau Raja akan membicarakan mengenai pembunuhan-pembunuhan yang terjadi baru-baru ini … tapi peraasaan Raja sedang ringan karena ia mengumumkan agenda pertemuan kali ini: Perubahan Aturan Pajak!
Ini adalah tindakan yang sangat pintar, karena ia dapat menggunakan isu panas ini untuk memancing perhatian semua orang … dan melupakan mengenai pembunuhan sebaliknya membicarakan aturan-aturan pajak. Satu-satunya orang yang dapat melihat maksud di balik ini semua adalah Jo Mal-saeng. Ia mengawasi keadaan sekitarnya seperti seorang dewasa sedang mengawasi anak-anak kecil.

Pangeran Gwangpyeong menemui Sejong dan mencoba mengatakan dugaannya bahwa Raja menggunakan Perubahan Aturan Pajak sebagai pengalihan dari masalah yang sebenarnya. Raja menjadi aneh. Pangeran Gwangpyeong memang menyatakan kebenaran yang sesungguhnya, bahwa Sejong membawa isu pajak itu ke Dewan Istana untuk melihat siapa-siapa yang memihaknya maupun yang tidak. Mungkin juga Sejong telah melakukan perkataan Jo Mal-saeng sebelumnya, waspada pada setiap orang, karena ia tidak menyatakan semua rencananya pada anaknya sendiri.

Park-po melihat So-yi keluar Istana dengan menyamar sebelumnya, dan memberitahu Chae-yoon kemana ia pergi, dan tak lain tak bukan sisi gunung di mana pembunuhan terjadi kemarin malam, dan So-yi kelihatannya sedang mencari sesuatu. Apa yang tidak diketahui oleh So-yi adalah kalau Chae-yoon secara diam-diam telah menyimpan paket, dan ia ingin agar So-yi menemukannya. Karena ia masih belum mengetahui di pihak mana kesetiaan So-yi berada. Chae-yoon sangat percaya diri kalau ia akan mengetahui apa yang akan dilakukan oleh So-yi  dengan buku, yang sementara itu setengah mati dicarinya di mana-mana.

So-yi menemukan buku yang dijatuhkan oleh Chae-yoon, yang bersama dengan Park-po berdiri tek jauh dari So-yi. Tapi kalau Chae-yoon berharap ia dapat mengikuti So-yi dan meihat apa yang akan dilakukan So-yi dengan buku itu, Chae Yoon sungguh kecele karena So-yi mempelajari halaman demi halaman, menghapalkannya sampai melekat di otaknya, kemudian ia merobek-robek halaman buku dan membakarnya.
Tindakan So-yi memang tak menandakan apakah ia musuh atau kawan? Chae-yoon memutuskan kalau So-yi ini orang yang menarik.

Raja merasa kesal, idenya membawa perubahan aturan pajak pada Dewan Istana justru bekerja melawan dirinya, semua orang menjaga jarak dengannya  Shim Jung-soo sedang dalam tugas penyamaran dari Mil Bon, dan tidak malu-malu menggosok yang lainnya melawan Sejong dengan mengatakan, apa sebenarnya yang Raja coba katakan dengan semua ide mengenai “Perubahan Pajak” ini …. adalah bahwa Neo Konfusius tidak dapat memerintah Joseon …
Ketika Muh-hyul memberitahu Sejong mengenai semua pertemuan rahasia di belakang punggun Raja Sejong, Raja menjadi geram. Ia marah karena usahanya yang terbaik ternyata masih belum cukup. Kesalahan apa sebenarnya yang telah ia lakukan? Semua yang ia inginkan hanyalah membangun sebuah negeri. Semua lawan-lawannya justru sekarang menyuruhnya untuk mempelajari Konfusius.
Raja sungguh-sungguh hatinya dipenuhi kemarahan dan kebingungan keitka ia bertanya jujur pada Mu-hyul, “Kapan Konfusius benar-benar mengatakan sebuah negara tidak boleh membuat almanak sendiri? Kapan Konfusius pernah mengatakan kalau kita tidak dapat mendengar apa yang rakyat inginkan secara pribadi?”

Sejong sedang berhalusinasi beberapa kali, karena ia sekarang ada di Jiphyunjeon dan melihat dirinya muda dulu sedang duduk membaca.
Sejong melompat seperti orang sinting begitu melihat bayangan masa mudanya, memberitahu kalau dia telah membunuh banyak orang yang tak bersalah. Jika saja ia tak begitu picik dan angkuh ketika ia masih muda, maka semua ini tidak akan terjadi. Jika ia tidak memilih untuk mengambil langkah di jalan yang berkerikil dan mencoba untuk menggunakan kata-kata dan literatur daripada kekuasaan, mungkin hasilnya akan berbeda.
Dengan aura wibawanya yang besar, bayangan muda itu meyakinkan Raja Sejong bahwa belum terlambat untuk mengubah segalanya. Sejong masih dapat pergi ke makam ayahnya, seperti yang telah diprediksi oleh Raja Taejong, dan menangislah di sana kemudian memohon maaf. Ini adalah kata-kata yang Sejong perlu dengar tapi ia tak mau mendengarnya, dan ia berubah dari seorang yang penuh dengan rasa amarah menjadi pria yang menangis. Ia kemudian mendapati dirinya sendirian lagi, ia baru saja berhadapan dengan sisi gelapnya.


Chae-yoon telah mengikuti So-yi sepanjang hari sebagai bagian dari penyelidikannya, dan ia berakhir di tempat Ga Ri-on, yang mana So-yi baru saja masuk dan menghilang. Ia mendapati kalau So-yi datang untuk mendapatkan dua macam bahan obat, fungsi obat pertama untuk membuat orang tetap terjaga, dan yang kedua sebuah obat anestasi yang sangat kuat yang dapat membuatnya sedikit koma. Chae-yoon menjadi khawatir saat melihat ini, dan alasan ini cukup untuk membuatnya memunculkan diri dan mengingatkannya untuk tidak melakukan itu. Ia mengambil campuran obat itu dan tahu kalau kesadaran So-yi tak akan bertahan lama.
Tapi dia juga tahu mengapa So-yi melakukan ini, ia bertanya, apa yang terjadi padamu? sehingga membuatmu sangat takut untuk menghadapi mimpi-mimpimu? Kalau saja Chae-yon tahu bahwa kata-katanya dulu selalu menghantui mimpi So-yi sampai sekarang.

Baik Chae-yoon maupun So-yi tidk mendengar kedatangan Raja dan rombogannya, tapi Sejong yang ada di luar mendengar percakapan mereka. Ia ingin tahu bagaimana Chae-yoon tahu mengenai semua efek dari obat-obatan itu.
Chae-yoon tak mau berbohong, dan memberitahu Raja kalau dulu ia menggunakan obat-obatan itu karena ayahnya adalah satu-satunya orang di dunia ini yang ia miliki, ayahnya adalah dunianya, dan ketika ia mati, Chae-yoon merasa sendiri dan kesepian. Ia tak dapat tidur setiap malam karena ia merasa kalau ayahnya selalu menunggunya di dalam mimpinya, bertanya mengapa ia harus mati.  Wajah Sejong dan so-yi berubah, nampaknya mereka merasakan hal yang sama.

Sejong lebih tertarik bagaimana Chae-yoon akhirnya dapat mengatasi kecanduan obatnya? Jelaslah ia sedang memperhatikan kesehatan So-yi. Balas dendam, kata Chae-yoon, karena menurutnya itulah yang memperbaiki kondisinya yang sangat buruk. Tapi perkataan ini masih tidak bisa mengangkat beban berat di hati Sejong, dan Sejong kemudian bertanya megnapa ia melanjutkan untuk melangkah di jalan yang penuh dengan kerikil tajam?
Chae-yoon: Aku, tanpa adanya tekad balas dendam, bukanlah aku lagi!
Dan Sejong, menyadari kalau ia bukannya dirinya lagi jika ia tak memiliki tekad di dalam hatinya. Kabut tersingkap dari dalam hatinya. Ia bahkan memberitahu Chae-yoon untuk meneruskan jalannya. Ia akan melangkah di jalannya sendiri.

Deep Rooted Tree-eps 09

Saat So-yi sendirian, ia mencengkeram kantung kecil yang serupa dengan yang ia berikan dulu pada Ddol-bok dan menangis sedih.

Perkataan Ddol-bok saat di pernjara, yang keluar dari kemarahan di dalam hatinya, masih memberati hatinya dan So-yi percaya kalau ia memang bertanggungjawab atas kematian semua orang, termasuk ayah Ddol-bok. Semua itu karena ia telah berbohong mengenai kemampuannya membaca.


Pelajar Sung Sam-moon dan Park Paeng-nyeo mendatangi sisa-sisa dari kantor percetakan yang terbakar dan mencoba untuk menebak teka-teki yang ditinggalkan oleh Yoon-pil saat kematiannya: “Goon Na Mi Yok”. Sam-moon tampaknya memiliki ide bagaimana untuk memecahkannya, dan tampak karakter itu menjadi hidup dan melayang di hadapan halaman buku di depannya. Yang ia temukan adalah karakter yang dimulai dengan suara yang dihasilkan dengan memutar lidah, yakni “s”, dan Pang-nyeon bahkan tidak bisa mengatakannya tanpa menggigit lidahnya. 
 

Sejong muncul tiba-tiba di belakang kedua pelajar itu, yang menjadi sangat terkejut melihat Raja di belakang mereka. Sejong mendengar suara yang dihasilkan sam-moon dengan memutar lidah dan mengkonfirmasikan itu, mengatakan kalau Sam-moon berhasil menemukan ide yang benar dengan memutar lidahnya. “Goon Na Mi Yok” adalah sekumpulan suara, digambarkan dari semua macam: bahasa, suara garau, dan lain-lain.
Sam-moon telah ada di ujung penemuannya, dan bertanya pada Sejong mengapa Yoon-pil berusaha menyembunyikan kenyataan ini sebelum kematiannya?


Sejong membawa kedua pelajar itu ke bekas ruangan Sudoku-nya, sekarang ia pada akhirnya memilih untuk mengungkapkan proyek super rahasia nya. Ia membuka salah satu laci jadi Sam-moon dapat melihat isinya: gambar-gambar yang mewakili kata-kata yang disusun menurut suaranya. Sejong kemudian menunjukkan pada mereka isi dari laci-laci yang lain, kotak yang terbuat dari kayu dan berlapiskan seperti emas, seperti kotak teka-teki yang begitu disukai oleh Sejong pada masa mudanya. Dan akhirnya pengungkapan rahasia terbesar:
Raja Sejong: Aku membuat suatu sistem penulisan. Huruf-huruf kita akan dibangun berdasarkan suara-suara kita. Alfabet kita!”


Dalam keterkejuta dan ketidak percayaan, Sam-moon membuka laci-laci dari satu laci ke laci yang lain, kagum melihat semua gambar-gambar, semua karakter, yang disusun berdasarkan suara. Ini seperti suatu sihir, begitu menakjubkan, sangat indah, begitu hebat …. Ini adalah suatu proyek penciptaan abjad !

Sam-moon tak bisa menahan rasa ingin tahunya mengapa Raja ingin menggusur sejarah dan aturan Tiongkok yang sudah berabad-abad lamanya mempengaruhi sistem penulisan mereka? Tidakkah abjad yang baru dibuat ini sulit untuk bertahan lama untuk melawan abjad yang sudah lama tertanam dalam masyarakat? Lihat saja Naskah Phags-pa, apakah abjad itu gagal karena buruk? Tidak, itu karena sebuah abjad harus tertanam selama ribuan tahun, sama seperti abjad Tiongkok. Sam-moon tidak bermaksud menentang Raja, ia hanya ingin membeberkan kenyataan bahwa Raja harus menghadapi batu besar yang harus dilewati jika ingin proyek ini berhasil.

Tapi Sejong masih memiliki rahasia lain yang diungkapkannya, ia mengangkat Sam-moon dan Paeng-nyeon untuk menilai proyek Hangul ini. Penilaian mereka lah, dan seseorang yang namanya tak disebutkan, yang entah akan menyelamatkan proyek ini atau menggagalkannya. Sejong berkata kalau ia akan membuang kerja keras beberapa tahun yang telah ia dedikasikan selama ini jika sistem ini menyebabkan Joseon menjadi mundur dan sama sekali tak membantu rakyat.


Mu-hyul bertemu dengan Chae-yoon untuk memberinya kabar baik, Raja telah mengangkatnya sebagai penyelidik resmi untuk menyelidiki Mil Bon. Ia lalu menyerahkan jurnal milik Jo Mal-saeng yang telah mencatat mengenai serba-serbi Jung Ki-joon selama ini, tapi belum ada yang dapat dikonfirmasikan karena kelompok itu telah cukup lama berdiam diri selama 20 tahun ini.
Tapi hanya ketika Muh-hyul mengatakan kata-kata “Mil Bon” secara khusus baru Chae-yoon matanya membelalak. tampaknya ia teringat sesuatu yang penting dari masa kecilnya.


Di tengah malam yang gelap, Chae-yoon berlari ke sebuah tempat yang bertandakan khusus, yang hanya ia yang dapat mengenalinya dan menggali dengan kedua tangan kosong. Ia mengambil kembali dari dalam tanah sebuah  tas milik  Jung Do-gwang, yang ia ambil dari kantung pelana kuda yang ia curi semasa kecil dahulu demi melarikan diri, dan di dalamnya tak lain tak bukan berisikan Gulungan Mil Bon, yang selama ini dicari-cari oleh  kelompok Mil Bon.
Chae-yoon tampak puas dengan pengetahuannya yang baru ini, bahwa pria yang gulungannya ia ambil juga memiliki surat wasiat ayahnya. Dan Chae-yoon tahu kalau ia akan segera menemukan siapa orang yang selama ini ada di balik layar.


Para pejabat masih melakukan pertemuan rahasia, dan tampak  Shim Jong-soo dari Mil Bon lah yang menjadi tukang gosok. Para pejabat itu jelas memiliki nyali menentang pemerintahan Sejong yang selama ini selalu melawan Konfusianisme, juga dengan proyek rahasianya, dan karena itu sudah tiga pelajar yang mati. Keputusannya? Sejong sedang melakukan sesuatu yang tak seorangpun dari mereka tahu apa itu, dan ini sama sekali tidak menyenangkan mereka.
Tapi ternyata ada mata-mata yang menguping di luar, dan ia segera pergi melapor apa yang ia dengar pada Sejong. Tapi Sejong kemudian memberitahu, tidak lagi … ia tidak ingin memata-matai para pejabat tinggi lagi.


Pejabat Lee Shin-juk memutuskan untuk mengunjungi Duta Besar Ming, Gi Je-yeon, dan bertanya padanya apakah ia menyadari semua keanehan yang terjadi di Istana. Duta besar menjawab kalau ia tak sepenuhnya mengerti, tapi mereka telah mengamati Shim Jong-soo sejak ia bertemu dengan Guru Hae-gaeng.  Mata-mata mereka selalu kehilangan diirnya setiap malam di sekitar Ban Chon.
Ini memercikkan rasa penasaran yang telah menggerogoti Lee Shin-juk mengenai Shim Jong-soon, tapi ia mungkin juga sedikit merasa ringan karena sang Duta besar mengirimkan kepala penyelidiknya secara pribadi untuk memata-matai pejabat yang menunjukkan gelagat yang mencurigakan.
Keliatannya Lee Shin-juk tak sepenuhnya anggota Mil Bon, karena saat ia bercakap-cakap dengan seorang bawahannya, ia selalu mengatakan “dulu” setiap kali ia membicarakan pengalamannya di Mil Bon. Tampaknya selama 20 tahun ini ada sesuatu yang berubah di hatinya, walaupun ia masih saja menerima perintah dari Mil Bon, ia tak menganggap dirinya anggota lagi.


Mu-hyul sengaja memberitahukan di depan semua orang kalau Chae-yoon tampaknya punya niat lain dalam penyelidikannya dan tak bijaksana bagi Raja, ataupun ketentraman umum, untuk memberikan kekuasaan penuh pada pengawal kerajaan dalam penyelidikan ini. Mu-hyul dan Sejong juga mengabaikan pejabat Jung In-ji saat mulutnya menganga mendengar perkataan Mu-hyul mengenai ide bahwa Chae-yoon tampaknya memiliki niatan lain, dan Sejong mengatakan kalau Mu-hyul seharusnya sudah terbiasa dengan Raja yang ektrim ini. Raja kemudian memberitahu Mu-hyul untuk bersiap-siap karena segalanya akan menjadi lebih menegangkan mulai sekarang.
Sejong ingin tahu apa yang So-yi pikirkan, yang seperti biasa So-yi menuliskannya di secarik kertas untuk dibaca Sejong. Kelihatannya So-yi memberitahu Sejong mengenai Ga Ri-on, dan apakah Sejong seharusnya mempercayainya atau tidak.


Ternayta mata-mata yang dikirimkan oleh Duta Besar Ming adalah seorang wanita, yang pernah melerai perkelahian di pasar, ia adalah Gyun Jeok-hee. Ia berprofesi sebagai penerjemah bagi Duta Besar Ming, dan sedang bertarung dengan Shim Jong-soo yang dalam perjalanan menuju ke tempat pertemuan rahasia Mil Bon. Jeok-hee mempertahankan diri dengan keahlian bela dirinya yang istimewa dan bahkan berhasil menebas topi Jong-soo … sebelum kemudian mengatakan kalau dirinya tak menguntit Jong-soo, ia hanya merasakan sebuah ancaman dari sisi tembok yang lain …


Chae-yoon sedang melakukan penyelidikan sendiri, dan sudah berada setahap di depan dibandingkan yang lain dalam penyelidikannya mengenai Mil Bon. Jelas Chae-yoon mendapatkan keuntungan karena  memiliki Gulungan Mil Bon, tapi ia juga tahu kalau Nyonya pemimpin Ban Chon memiliki andil dalam Mil Bon … Jadi Chae-yoon mendatangi Ban Chon dan menemukan kuil di mana semasa kecil mencoba melarikan diri melaluinya. Ingatannya sangat tajam, karena ia masih mengingat sampai sekarang sang Nyonya pemimpin keluar dari dalam Kuil ketika perkelahian pecah antara penduduk Ban Chon dan pasukan rahasia Jo Mal-saeng beberapa tahun lalu.
Sialnya, Chae-yoon membuat suara berisik sementara mendengarkan pertemuan itu dari luar ruangan. Dan ketika jelas kalau orang yang ada di luar bukanlah Yoon Pyung, si pembunuh gelap, Tangan kanan Nyonya Pemimpin segera melakukan pengejaran. Tapi Chae-yoon bukanlah seseorang yang dengan mudahnya tertangkap. Chae-yoon melarikan diri dengan pintarnya, menempel pada atap. Sungguh akal yang cerdik! Tapi seseorang melihatnya, dia adalah Jo Mal-saeng yang sedang bersembunyi di balik bayangan gedung.


Pelajar yang diangkat Sejong menjadi Pejabat Pencacah Sensus, Nam Sa-chul, sedang gemetaran dan memberitahu atasannya kalau ia merasa sakit sekali dan tak dapat mengerjakan tugasnya. Tapi setelah beberapa kali tanya jawab, Sa-chul mengungkapkan kalau alasan sebenarnya adalah rasa takutnya bahwa kemarin malam sebuah pesan yang bernada mengancam telah ditinggalkan di atas mejanya dan ia ditodong pedang di belakang lehernya. Itu pasti orang yang telah membunuh Yoon-pil, bukankah ia bisa terbang, benar bukan?


uhi dengan rasa dongkol, Kepala Pelajar mengambil pisau dan pesan itu dan kemudian menyerahkannya pada Sejong. Pesan itu jelas menyatakan siapapun yang membantu Raja, atau bahkan mereka yang berhubungan dengan apapun yang ia lakukan, akan dibunuh. Kepala Pelajar  memberikan ultimatum pada Sejong: entah Sejong memberitahu apa proyek rahasianya atau ia tak akan mengirimkan seorangpun pelajar untuk mempelajari perubahan sensus pajak. Sejong telah menyebabkan kematian tiga orang pelajar, dan hampir saja yang keempat tadi malam. Dan tak akan ada pelajar yang akan membantu jika ternyata Sejong berkaitan dengan semua pembunuhan itu.


Chae-yoon telah memutuskan untuk pindah ke  dalam Ban Chon. Apa yang patut diributkan? Emangnya kenapa kalau itu desa budak, bukankah ia bisa mendapatkan sewa murah dan daging seberapa banyak yang ia inginkan. Tak lama setelah ia pindah, Chae-yoon bertemu dengan sang Nyonya Pemimpin. Chae-yoon tahu kalau si Nyonya memiliki hubungan dengan Mil Bon, dan dengan cerianya mengumumkan kalau dirinya akan hidup di ujung hutan di desanya mulai hari ini.


Waktunya bertemu dengan Sung Sam-moon, dan Chae-yoon bertingkah seakan-akan ia seorang penagih hutang yang menagih kepada Sung Sam-moon. Hanya saja yang ia inginkan adalah apakah Sung Sam-moon sudah menemukan pemecahan “Goon Na Mi Yok”. Kemudian mengingatkan perjanjian mereka sebelumnya.
Sekarang karena Sam-moon telah mengetahui semua yang ia ingin ketahui mengenai proyek rahasia Raja, maka niatnya untuk meneruskan kerjasama sudah memudar dan mengatakan pada Chae-yoon kalau ia tak akan melakukannya lagi.  Chae-yoon tak mempercayainya tapi tak mengatakan apapun, terpaksa membiarkan ini berlalu.


Cho-tak merasa telah cukup pulih dari luka tusukan dan bersikeras untuk membantu Chae-yoon dan berniat untuk pindah juga ke Ban Chon. Sementara Chae-yon ingin temannya ini menjauh dulu dari kasus mereka untuk menyembuhkan diri, Cho-tak tak mau mendengarkannya. Lagipula, saat mereka bertarung di perbatasan utara, ia masih dapat menggotong Chae-yoon ke tempat yang aman sementara ia sendiri tubuhnya terkena tiga panah, benar bukan? Tapi ini bukan perbatasan utara, kata Chae-yoon. Semuanya akan lebih menegangkan mulai saat ini (atau ekstrim, seperti kata Sejong)


Atasan mereka tiba dan menyela di antara mereka, mengusik momen itu, memberitahukan kabar bahwa kejadian yang berkaitan dengan pisau dan ancaman pada Pelajar Nam Sa-chul telah diberikan kepada Biro Penyelidik Kerajaan, dan diambil alih secara khusus oleh Jo Mal-saeng. Chae-yoon tak boleh turut campur. Mutlak! Tidak! Boleh! Ikut Campur! … tapi kelihatannya Chae-yoon hanya mendengar “Kau mutlak boleh ikut campur!”


o Mal-saeng mungkin memang cocok untuk menjadi penanya, karena ia tampaknya tidak pernah mempercayai setiap orang. Wajahnya tak bisa ditebak, entah ia memang tidak mempercayai Nam Sa-chul atau hanya bersikap skeptis, karena ia mencatat bahwa Nam Sa-chul sedang bertingkah cukup mencurigakan sebagai seorang korban. Tapi mungkin saja kalau si pelajar itu benar-benar ketakutan.
Ketika si pelajar Nam pergi, Jo Mal-saeng tinggal untuk memikirkan mengenai pisau yang tertinggal di TKP. Ia kemudian meminta cuka, tampaknya sedang menduga sesuatu.


 ke Ban Chon. Tapi Chae-yoon merasa ada yang janggal saat ia kembali ke kamarnya. Ia menemukan sehelai rambut di atas tanah, dan itu adalah rambut yang memang khusus ia tempatkan di celah pintu sehingga ia bisa tahu kalau ada seseorang membuka pintu kamarnya. Chae-yoon dengan tenang membuka laci dan mengambil sebuah gambar yang  mana ia gambar keadaan kamarnya, di mana saja ia menaruh benda-benda miliknya, dan ia menemukan kalau semuanya telah diatur lagi. Seseong benar-benar telah memasuki kamarnya dan tampaknya melakukan penggeledahan.



Tak begitu lama ia menyadari kalau si Ga Ri-on mengundangnya untuk minum-minum. Chae-yoon segera bergegas menemuinya dan merka bercakap-cakap dengan penuh rasa hangat, kemudian Chae-yoon memberitahu Ga Ri-on agar berhenti memberikan bahan-bahan obat itu pada So-yi karena So-yi tak akan menjadi lebih baik dengan terus menggunakannya.


Ga Ri-on mengatakan kala ia memberikannya pada So-yi karena ia merasa kasihan dan tahu rasanya seperti apa, So-yi tak bisa tidur karena perasaan bersalah yang sangat kuat sehingga mempengaruhi alam bawah sadarnya. Ga Ri-on memiliki kepribadian yang riang gembira dan penuh persahabatan yang mana Chae-yoon menyukainya, jelaslah kalau Ga Ri-on terbiasa dianggap bukanlah siapa-siapa, tapi Chae-yoon telah memperlakukannya seperti seorang manusia yang sama dengan manusia lainnya.
Dan hanya setelah itu ketika Ga Ri-on menuangkan secawan minuman untuknya lah Chae-yoon menyadari sesuatu yang aneh di jarinya.


Chae-yoon ternyata tidak hanya menaruh sehelai rambut di pintu dan membuat gambar di lacinya, tapi ia juga menaruh lilin kuning di pegangan laci yang akan menodai jemari penyusup sehingga mudah ditemukan. Dan ini berarti penyusup itu adalah Ga Ri-on.
Sementara Chae-yoon sedang mendekati pemecahan masalahnya, begitu juga dengan Jo Mal-saeng. Pejabat itu menggunakan cuka yang ia oleskan pada pisau dan tiba-tiba ujungnya yang tajam menjadi kehijauan.  Ini artinya ada darah babi di pisau itu, dan darah babi hanya akan ditemukan di pisau penjagal, dan hanya ada satu penjagal di kota itu …  Uh oh …


 Jo Mal-saeng memimpin sekelompok prajurit menemukan Ga Ri-on di tengah jalan, dan menunjukkan padanya bukti yakni pisau jagalnya yang ditemukan di rumah Nam Sa-chul. Ga Ri-on tampak benar-benar terkejut dan tercengang. Itu memang pisaunya, tapi ia tak tahu mengapa sampai pasukan kerajaan membawanya dan merasa ngeri ketika mereka mulai memukulinya. Karena terpaksa, Ga Ri-on meraih sebuah pedang untuk membela dirinya, ia benar-benar ingin mereka mendengarkannya terlebih dahulu, tapi semua sia-sia belaka, jadi ia segera menjatuhkan pedang dan berlari untuk mempertahankan hidupnya.


Chae-yoon sedikit terlambat dari Jo Mal-saeng dan melihat semua kejadian itu. Ia lalu mengejar Ga Ri-on ke tempat tersembunyi dan langsung melemparnya ke tanah. Ia bertindak menurut kata hatinya sendiri, dan bertanya Ga Ri-on apakah ia anggota Mil Bon, dengan pisau mengancam di lehernya. Si penjagal itu sepenuhnya tampak tertegun dengan pertanyaan itu, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi dan mengapa sampai begini.


Chae-yoon mengeluarkan semua tuduhan yang mengarah pada  Ga Ri-on, yang dianggap sebagai orang yang mengancam Nam Sa-chul. Ga Ri-on membela diri, mengatakan kalau ia memang ada di rumah Sa-chul, tapi hanya untuk mengantarkan daging babi dan menduga kalau Nam Sa-chul pasti telah menyembunyikan kenyataan ini karena daging babi melanggar hukum. Dan ia menggeledah ruangan Chae-yoon karena ia hanya disuruh oleh Mu-hyul … perkataannya yang terakhir menjadi kenyataan yang mengejutkan bagi Chae-yoon.


Dan mengenai bukti yang ada, pisaunya, Ga Ri-on mengatakan kalau pisau itu hilang pada malam itu. Dan ia adalah satu-satunya penjagal di kota, maka ia pasit gila jika menggunakan pisaunya sendiri untuk mengancam karena itu justru akan mengarah kepada dirinya. Chae-yoon mendengarkan semua ini dan mengatakan, baiklah … jika kau tidak melakukan kesalahan apapun, maka kau pasti dapat membela dirimu sendiri.


Mendengar perkataan Chae-yoon, airmata meleleh di pipi Ga Ri-on, ia bertanya, apakah dirinya seorang bangsawan? Apakah semua nyawa itu sama? Hidupnya berharga kurang dari  seekor lalat … jika ia diseret paksa ke biro .. maka sebagai seorang budak, ia hanya akan dibunuh. Tidakkah Chae-yoon mengetahuinya sekarang? Hidupnya ini tak berharga sama sekali, dan itulah bagaimana hidupnya yang rendah ini akan diperlakukan, sebagai sesuatu yang tak berharga bisa dibuang sewaktu-waktu.


Kata-kata Ga Ri-on menusuk tepat di hatinya, karena ia mengingat ketika ia masih di penjara semasa kecil dan semua orang yang ia tahu, ayahnya, dan juga dirinya sendiri, dianggap lebih rendah dari manusia. Wajahnya nampak menampakkan perubahan dan ia mengambil keputusan besar …
Chae-yoon: Tak ada hal semacam hidup yang rendah. Di dunia ini, tak ada yang namanya hidup yang tak berharga! Jika kau benar-benar difitnah, aku tak akan membiarkanmu mati dalam ketidakadilan!


Tapi untuk saat itu, Chae-yoon hanya bisa mengawasi ketika prajurit kerajaan memukuli Ga Ri-on sampai ia tak sadarkan diri, dan kemudian mereka menyeretnya pergi.